SHANGHAI, BULLETIN – Pemain bintang sepak bola China, Wu Lei, dengan sigap turun tangan setelah insiden perundungan yang menimpa seorang bocah penggemar China yang mengenakan jersey tim nasional dengan nomor punggung 7 miliknya. Bocah tersebut diintimidasi oleh suporter rival usai pertandingan Chinese Super League.
Insiden tersebut terjadi setelah laga antara Shanghai Shenhua dan Beijing Guoan di Shanghai Stadium pada Selasa malam, 18 Agustus 2026. Dalam pertandingan tersebut, Shanghai Shenhua menelan kekalahan telak 0-3 dari Beijing Guoan.
Setelah peluit akhir, bocah penggemar China tersebut terlihat meninggalkan stadion bersama ayahnya. Ia mengenakan seragam timnas China dengan nomor 7, nomor yang identik dengan Wu Lei di kancah internasional, memicu kemarahan beberapa suporter.
Namun, perjalanan pulang mereka berubah menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Sejumlah suporter yang memakai atribut Shanghai Shenhua mendekati dan melontarkan kata-kata kasar kepada bocah penggemar China tersebut beserta ayahnya. Video kejadian ini tersebar luas di media sosial, menunjukkan suporter menunjuk dan meneriaki keduanya, sementara sang ayah berusaha melindungi anaknya.
Penyebab pasti insiden ini belum diketahui, namun melibatkan seorang anak kecil yang hanya ingin menikmati pertandingan telah memicu kecaman luas dari publik sepak bola China.
Peristiwa ini sampai ke telinga Wu Lei, pemain Shanghai Port, yang langsung menggunakan akun Weibo resminya untuk mencari keberadaan bocah dan ayahnya. Wu Lei bela bocah penggemar China ini dengan serius.
“Mencari penggemar muda yang mengenakan jersey tim nasional nomor 7 dan ayahnya, yang menghadiri pertandingan di Shanghai Stadium malam ini (18 Agustus). Jika Anda atau teman yang dapat menghubungi mereka melihat unggahan ini, silakan kirim pesan langsung kepada kami,” demikian pesan yang diunggah melalui akun resmi Wu Lei. Unggahan ini segera menarik perhatian besar dan menjadi perbincangan hangat di dunia maya.
Menurut Liu Wenchao, seorang reporter senior dari Oriental Sports Daily, Wu Lei ingin bertemu langsung dengan bocah tersebut. Pertemuan ini bertujuan untuk memberikan dukungan moral serta hadiah sebagai bentuk penghargaan atas kecintaan sang bocah pada sepak bola. Wu Lei bela bocah penggemar China ini menunjukkan kepeduliannya.
“Kami berharap semua anak yang mencintai sepak bola dapat menikmati kegembiraan yang diberikan olahraga ini dengan aman,” tulis Liu. Sikap Wu Lei mendapat sambutan positif dari publik, yang menilai kecintaan anak terhadap sepak bola seharusnya didukung, bukan diintimidasi. Insiden ini menegaskan pentingnya Wu Lei bela bocah penggemar China.
Komentator olahraga China, Han Qiaosheng, juga membagikan video insiden tersebut dan mengkritik keras perilaku suporter. Namun, pada Rabu pagi, Han mengklarifikasi bahwa unggahannya tidak bertujuan untuk memperuncing rivalitas antarsuporter. Ia berharap pihak berwenang segera bertindak untuk menyelesaikan masalah ini dan mencegah konflik lebih lanjut.
Sementara itu, petugas dari Hengfu Police Station di bawah Xuhui Branch, Shanghai Municipal Public Security Bureau, dilaporkan telah menangani kejadian ini. Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Hingga berita ini diturunkan, Shanghai Football Association belum memberikan komentar resmi mengenai insiden tersebut.
Kasus ini menyoroti kembali sengitnya rivalitas sepak bola di Shanghai. Wu Lei sendiri adalah pemain utama Shanghai Port, klub yang memiliki persaingan ketat dengan Shanghai Shenhua. Nomor 7 pada jersey yang dikenakan bocah tersebut menjadi simbol ganda: kecintaannya pada tim nasional China dan Wu Lei, sekaligus pemicu ketegangan di tengah suporter klub rival.
Bagi Wu Lei, persoalan ini bukan lagi sekadar rivalitas klub. Responsnya menunjukkan pesan yang lebih luas: kecintaan anak-anak terhadap sepak bola harus dijaga agar tetap menjadi pengalaman yang aman dan positif. Wu Lei bela bocah penggemar China karena ingin melindungi semangat positif ini.
Di tengah insiden tersebut, sepak bola China juga menerima kabar baik dari perkembangan pemain muda di luar negeri. Penyerang China berusia 18 tahun, Wei Xiangxin, resmi bergabung dengan klub Ligue 1 Prancis, AJ Auxerre, pada Juli 2026. Wei mendapat bimbingan dari mantan penyerang tim nasional Prancis, Djibril Cissé, yang memuji potensi besar Wei dalam penyelesaian akhir, pergerakan tanpa bola, penggunaan kedua kaki, serta insting mencetak gol. Cissé juga menyoroti etos kerja Wei yang menonjol untuk pemain seusianya. Namun, Cissé menyebut kemampuan berbahasa sebagai tantangan utama yang harus segera diatasi Wei agar kariernya di Prancis dapat berkembang.
Dua cerita ini menampilkan sisi berbeda sepak bola China: rivalitas suporter yang kadang menimbulkan masalah serius, dan munculnya generasi muda yang berambisi menembus level Eropa. Pesan Wu Lei yang gigih membela bocah penggemar China menjadi pengingat bahwa di balik rivalitas dan fanatisme, sepak bola seharusnya tetap menjadi ruang aman bagi siapa pun, terutama anak-anak yang baru mulai mencintai olahraga ini.






