TURIN,BULLETIN.ID – AC Milan pulang dari Turin dengan satu poin setelah bermain imbang 1-1 melawan Juventus pada lanjutan Serie A 2026/27, Minggu (6/9/2026). Hasil tersebut terasa pahit bagi Rossoneri karena kemenangan yang sudah berada di depan mata buyar setelah Juventus mencetak gol pada masa tambahan waktu.
Namun, skor akhir tidak sepenuhnya menggambarkan perjalanan AC Milan di pertandingan tersebut. Di tengah tekanan bermain di markas Juventus, Rossoneri menunjukkan keberanian dan determinasi yang menjadi modal penting dalam perjalanan musim ini.
AC Milan bahkan mampu memecah kebuntuan melalui Alphadjo Cisse. Gol tersebut memiliki arti lebih dari sekadar membawa Milan unggul. Pada usia 19 tahun 319 hari, Cisse menjadi pemain termuda AC Milan yang mampu mencetak gol dalam dua pertandingan tandang pertamanya di Serie A pada era tiga poin untuk kemenangan, yang dimulai sejak musim 1994/95.
Lebih menarik lagi, gol Cisse menjadi gol pertama Milan ke gawang Juventus di Serie A sejak Olivier Giroud mencetak gol pada 28 Mei 2023.
Artinya, setelah lebih dari tiga tahun menunggu gol di Turin dalam pertemuan liga melawan Juventus, Milan akhirnya kembali menemukan jalan untuk membobol pertahanan Bianconeri.
Sayangnya, keunggulan tersebut tidak bertahan hingga peluit panjang. Juventus mencetak gol pada masa injury time dan memaksa pertandingan berakhir 1-1.
Bagi Milan, momen tersebut menjadi gambaran bahwa tim masih memiliki pekerjaan rumah dalam mengelola pertandingan. Keberanian untuk mengambil kendali dan mencetak gol harus diikuti kemampuan mempertahankan konsentrasi hingga detik terakhir.
Hasil imbang itu juga memperpanjang pola unik dalam duel kedua tim. Juventus dan Milan kini bermain imbang dalam tiga pertemuan Serie A secara beruntun. Catatan tersebut merupakan yang pertama terjadi sejak November 1973, ketika kedua tim bahkan mencatat empat hasil imbang berturut-turut.
Pertandingan di Turin juga menghasilkan gol dari kedua tim untuk pertama kalinya sejak 19 September 2021, ketika duel Juventus kontra Milan berakhir 1-1.
Bagi Rossoneri, satu poin tetap menjadi bagian dari awal musim yang masih positif. Milan menunjukkan bahwa mereka mampu menghadapi tekanan di stadion sulit dan bermain dengan determinasi ketika menghadapi salah satu rival terbesar di Italia.
Namun, gol Juventus pada penghujung pertandingan memberikan pesan yang jelas: Milan mulai menunjukkan karakter untuk bersaing, tetapi konsistensi selama 90 menit plus tambahan waktu masih menjadi ujian berikutnya.
Cisse menjadi salah satu simbol positif dari laga tersebut. Pemain muda itu bukan hanya mencatatkan namanya di papan skor, tetapi juga masuk ke dalam sejarah klub melalui sebuah pencapaian yang menunjukkan munculnya generasi baru di tubuh Rossoneri.
Sebelum Cisse, pemain Milan terakhir yang mampu mencetak gol di Turin ketika menghadapi Torino dan Juventus dalam satu musim Serie A adalah Brahim Diaz dan Ante Rebic pada musim 2020/21.
Dengan demikian, hasil 1-1 di Turin dapat dibaca dari dua sisi. Milan kehilangan peluang meraih kemenangan penting, tetapi di saat yang sama memperlihatkan tanda-tanda perkembangan sebagai tim yang mampu bertahan dalam pertandingan dengan tekanan tinggi.
Tantangan berikutnya adalah mengubah penampilan positif tersebut menjadi kemenangan. Sebab, dalam persaingan Serie A, keberanian menciptakan peluang dan mencetak gol hanya separuh pekerjaan. Kemampuan mengunci pertandingan hingga peluit akhir yang pada akhirnya menentukan apakah satu poin berubah menjadi tiga.






