Harga Bitcoin Tertekan: Jebol US$ 65.000 Akibat Konflik Timur Tengah Memanas

  • Whatsapp
Harga Bitcoin Tertekan

JAKARTA, BULLETIN

Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan, menembus level psikologis US$ 65.000 pada hari ini, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran ini memicu aksi jual aset berisiko, termasuk mata uang kripto, akibat kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global.

Pada perdagangan terbaru, harga Bitcoin tertekan dan diperdagangkan di kisaran US$ 64.100–64.900 setelah sempat turun lebih dari 1%. Pelemahan ini terjadi seiring dengan anjloknya pasar kripto secara keseluruhan dan peningkatan volatilitas di pasar keuangan global yang menunjukkan sentimen negatif.

Analis pasar menilai eskalasi konflik di Timur Tengah telah mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko atau melakukan aksi “risk-off”. Dana investasi kini lebih banyak mengalir ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar Amerika Serikat, emas, dan obligasi pemerintah, menjauh dari aset digital.

Tekanan terhadap harga Bitcoin tertekan juga diperparah oleh melonjaknya harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel. Lonjakan harga energi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global, yang pada gilirannya memicu aksi jual di pasar saham maupun aset digital, termasuk kripto.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Prospek suku bunga yang tetap tinggi cenderung membuat minat terhadap aset berisiko semakin melemah, termasuk cryptocurrency, menambah tekanan pada pasar.

Secara teknikal, sejumlah analis memperkirakan area US$64.000–US$65.000 menjadi zona support penting bagi Bitcoin. Jika level tersebut gagal dipertahankan, BTC berpotensi melanjutkan koreksi ke area yang lebih rendah, sementara ketegangan geopolitik dapat terus menekan harga Bitcoin tertekan.

Berita Pilihan :  Save the Children Ajak Kolaborasi Lindungi Masa Depan

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai fundamental jangka panjang Bitcoin masih relatif kuat. Adopsi aset digital oleh investor institusi serta perkembangan produk investasi berbasis kripto dinilai masih menjadi faktor yang dapat menopang harga dalam jangka menengah. Namun, volatilitas diperkirakan tetap tinggi selama konflik geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda mereda, membuat harga Bitcoin tertekan fluktuatif.

Pos terkait