Ratusan Siswa SMKN 6 Semarang Diduga Keracunan, Keluhkan Mual Setelah Makan Siang

  • Whatsapp
Ilustrasi

SEMARANG, BULLETIN – Ratusan siswa SMKN 6 Semarang mengalami kasus keracunan massal siswa SMKN 6 Semarang pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026, dengan laporan resmi masuk pada 1 Agustus 2026. Sebanyak 707 siswa menjadi korban setelah mengonsumsi menu katering dari MBG yang diduga tidak layak konsumsi, berupa ayam mentah dan sayuran berulat. Para siswa lantas mengalami mual, muntah, pusing, serta diare, dan harus dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan di Kota Semarang.

Total korban keracunan massal siswa SMKN 6 Semarang yang terdata mencapai 707 orang, meningkat dari laporan awal 690 siswa. Mereka semua menunjukkan gejala serupa seperti mual, muntah, pusing, dan diare, yang memerlukan penanganan medis di sejumlah Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah di Semarang.

“Kami menerima laporan adanya ratusan siswa SMKN 6 yang mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari katering MBG. Tim kami segera melakukan investigasi dan mengambil sampel makanan untuk diuji laboratorium,” kata dr. Abdul Hakam, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Penyelidikan awal mengarah pada menu makan siang yang disajikan oleh penyedia katering MBG. Ditemukan adanya daging ayam yang masih mentah serta olahan sayuran yang mengandung ulat, menjadi pemicu dugaan utama keracunan massal siswa SMKN 6 Semarang ini.

“Kami sangat prihatin atas kejadian ini. Prioritas kami adalah keselamatan siswa. Semua korban sudah mendapatkan penanganan medis,” kata Berti Sagendra, Kepala Sekolah SMKN 6 Semarang.

Insiden keracunan massal siswa SMKN 6 Semarang ini menggarisbawahi pentingnya penerapan Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah No. 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan. Regulasi ini secara tegas mewajibkan penyedia jasa katering memastikan standar higienitas dan keamanan pangan, yang dalam kasus ini diduga kuat telah dilanggar. Pihak berwenang diharapkan menginvestigasi potensi pelanggaran hukum oleh katering MBG.

Berita Pilihan :  Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas Tandai Awal Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI

“Saya merasa mual dan muntah setelah makan ayam. Ternyata dagingnya masih mentah,” kata Andi (17 tahun), salah satu siswa korban.

Kasus ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap penyedia jasa katering sekolah. Potensi kerugian akibat biaya perawatan medis diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, dengan estimasi Rp 1.000.000 per pasien untuk penanganan darurat, total sekitar Rp 707.000.000. Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah melakukan investigasi lanjutan untuk memastikan penyebab pasti keracunan massal siswa SMKN 6 Semarang ini.

Secara keseluruhan, kasus keracunan massal di SMKN 6 Semarang adalah salah satu insiden terbesar dalam sektor pendidikan di Jawa Tengah tahun 2026. Dengan jumlah korban yang signifikan, kejadian ini menegaskan urgensi pengawasan ketat terhadap kualitas dan keamanan pangan di lingkungan pendidikan demi mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.

Pos terkait