Kenapa Drama China CEO Bikin Kecanduan, Tapi Pemerintah China Makin Ketat Mengawasinya

  • Whatsapp
drama China
ILUSTRASI

JAKARTA, BULLETIN – Premis bahwa drama China dengan plot “sopir jadi CEO” dilarang adalah salah kaprah. Pemerintah China memang sedang memperketat pengawasan terhadap industri micro-drama, termasuk konten yang dianggap mempromosikan pamer kekayaan, materialisme, dan pandangan hubungan yang menyimpang, namun tidak ada aturan spesifik yang melarang plot tersebut. Yang diatur adalah kategori konten dan nilai yang dianggap bermasalah, di tengah popularitas masif industri micro-drama China.

Drama China, khususnya format micro-drama berdurasi pendek, telah berkembang menjadi industri hiburan bernilai sangat besar. Cerita tentang orang biasa yang tiba-tiba menjadi miliarder, pewaris keluarga kaya, atau sosok sederhana yang ternyata CEO menjadi salah satu formula yang membuat penonton terus mengikuti episode demi episode. Popularitas tersebut justru membuat pemerintah China memperketat pengawasan terhadap konten yang dianggap mempromosikan materialisme dan gaya hidup berlebihan.

Ada satu pola yang sangat mudah ditemukan dalam micro-drama China: kehidupan berubah dalam sekejap. Tokoh utama yang awalnya digambarkan miskin tiba-tiba mengetahui dirinya merupakan pewaris keluarga kaya. Seorang perempuan biasa ternyata menikah dengan CEO. Seorang pria yang dipandang sebelah mata mendadak menunjukkan kekayaan dan kekuasaan. Cerita semacam itu bekerja dengan formula sederhana: konflik cepat, kejutan besar, dan kepuasan instan. Tidak mengherankan jika format tersebut berkembang sangat cepat.

Industri Micro-Drama China Meledak

Popularitas micro-drama di China bukan sekadar fenomena media sosial. Menurut data yang dikutip China Daily, sekitar 33.000 micro-drama ditayangkan secara daring sepanjang 2025. Jumlah penontonnya mencapai hampir 700 juta orang. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya pasar hiburan dengan format cerita pendek tersebut, termasuk berbagai jenis drama China populer.

Laporan lain yang dikutip South China Morning Post menyebut nilai industri micro-drama China melonjak dari kurang dari 1 miliar yuan pada 2020 menjadi sekitar 100 miliar yuan pada 2025, berdasarkan laporan National School of Development, Peking University. Model bisnisnya juga menarik. Cerita dibuat dalam episode-episode pendek dengan alur yang cepat sehingga penonton terdorong untuk terus menonton episode berikutnya dari drama China.

Format tersebut pada akhirnya tidak hanya populer di China. Produk micro-drama yang berasal dari China juga berkembang ke pasar internasional. Menurut data pusat riset pengembangan di bawah otoritas China yang dikutip China Daily, lebih dari 800 aplikasi drama pendek China telah tersedia di pasar luar negeri dan menghasilkan pendapatan sekitar US$3,24 miliar sepanjang 2025.

Mengapa Pemerintah China Turun Tangan?

Pertumbuhan yang sangat cepat ternyata juga membawa persoalan. Pada 01 Juni 2026, National Radio and Television Administration (NRTA) mengumumkan operasi khusus selama dua bulan untuk membersihkan konten berbahaya, vulgar, dan pelanggaran hak cipta dalam industri micro-drama. Ada delapan kategori yang menjadi sasaran utama regulasi drama China ini.

Di antaranya konten yang merugikan anak, adegan seksual terselubung, pamer kekayaan dan pemujaan uang, pandangan hubungan asmara yang dianggap menyimpang, takhayul, kekerasan dan balas dendam, judul yang vulgar atau sensasional, serta pembajakan. Jadi, persoalannya bukan pemerintah China secara khusus melarang cerita “sopir menjadi CEO”. Yang menjadi perhatian adalah cara cerita tersebut menggambarkan kekayaan, status sosial, dan keberhasilan hidup apabila disajikan secara berlebihan atau dianggap mendorong pemujaan terhadap materi dalam drama China.

Dari Hiburan Menjadi Perdebatan Sosial

Di sinilah polemiknya menjadi lebih menarik. Cerita tentang seseorang yang mendadak kaya memang bukan fenomena baru. Hampir semua industri hiburan di dunia memiliki kisah tentang Cinderella, orang miskin yang menjadi kaya, atau tokoh biasa yang menemukan identitas luar biasa. Namun, ketika formula tersebut diproduksi dalam jumlah besar dan dikonsumsi jutaan orang, pemerintah China melihat adanya persoalan yang lebih luas mengenai arah konten drama China.

Regulator China dalam kebijakan terbaru memang secara eksplisit melarang micro-drama yang mempromosikan 拜金主义 (baijin zhuyi) atau pemujaan terhadap uang serta gaya hidup mewah secara berlebihan. Ketentuan tersebut tercantum dalam Peraturan Pengelolaan Pengembangan Micro-Drama yang akan mulai berlaku 01 September 2026. Aturan tersebut juga melarang konten yang dianggap bertentangan dengan moral sosial dan ketertiban umum. Artinya, pemerintah tidak hanya melihat micro-drama sebagai tontonan. Industri ini diperlakukan sebagai bagian dari ruang budaya yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat melalui drama China.

Berita Pilihan :  Netflix Rilis Teaser "Dochaebi": Drama Aksi Sejarah Dibintangi Lee Joon-gi

Tidak Berarti Semua Drama CEO Dilarang

Bagian ini penting agar isu tersebut tidak salah dipahami. Tidak ada ketentuan yang secara sederhana berbunyi: “Drama tentang sopir yang menjadi CEO dilarang.” Yang menjadi sasaran adalah konten yang dianggap mempromosikan materialisme, pamer kekayaan, atau nilai sosial yang dinilai bermasalah dalam sebuah drama China.

Dengan kata lain, sebuah cerita tentang CEO belum tentu dilarang. Yang dapat menjadi persoalan adalah apabila keseluruhan cerita menjadikan kekayaan, kemewahan, status sosial atau balas dendam sebagai ukuran utama keberhasilan dan kemudian dikemas dengan cara yang dianggap tidak sehat oleh regulator. Ini menjadi sorotan dalam pengawasan konten drama China.

Pemerintah Mengendalikan Sekaligus Mengarahkan Industri

Menariknya, kebijakan pemerintah China tidak semata-mata berisi pelarangan. Pada Januari 2025, NRTA justru meluncurkan program “Micro Drama+” untuk mendorong perkembangan industri tersebut ke berbagai sektor. Pemerintah menargetkan sekitar 300 micro-drama unggulan dengan tema seperti pariwisata, hukum, sains, budaya, dan warisan budaya. NRTA juga menyatakan bahwa micro-drama memiliki potensi untuk memperkaya kehidupan budaya masyarakat dan menjadi bagian dari perkembangan industri kreatif. Jadi, pendekatannya lebih tepat disebut mengendalikan sekaligus mengarahkan, bukan mematikan industri drama China.

Regulasi Makin Ketat Mulai September 2026

Perubahan besar berikutnya akan berlaku pada 01 September 2026. NRTA telah menerbitkan Micro-Drama Development Management Measures pada akhir Juli 2026. Aturan tersebut membagi micro-drama menjadi tiga kategori berdasarkan investasi dan tema, dengan mekanisme pendaftaran, pemeriksaan, dan perizinan yang berbeda.

Drama kategori tertentu wajib memperoleh pemeriksaan dan izin sebelum ditayangkan. Platform juga diwajibkan memiliki mekanisme pengawasan konten dan bertanggung jawab terhadap materi yang mereka distribusikan. Regulasi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah China melihat industri micro-drama sebagai sektor budaya yang semakin besar dan membutuhkan pengawasan lebih sistematis, termasuk untuk drama China.

Antara Kreativitas dan Kontrol

Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih besar. Di satu sisi, regulasi dapat digunakan untuk mengurangi konten vulgar, eksploitasi emosi, pamer kekayaan, dan cerita yang dianggap mendorong nilai sosial yang tidak sehat. Di sisi lain, semakin ketat pengawasan terhadap cerita juga membuka perdebatan mengenai batas antara perlindungan nilai sosial dan kebebasan kreativitas dalam drama China.

Sebab, kekuatan micro-drama justru terletak pada kemampuannya menghadirkan fantasi dalam waktu singkat. Penonton tidak perlu menunggu berjam-jam untuk melihat tokoh miskin berubah menjadi kaya atau karakter yang diremehkan membalikkan keadaan. Formula itulah yang membuat orang terus menekan tombol episode berikutnya.

Mengapa Penonton Sulit Berhenti?

Rahasia popularitasnya sebenarnya sederhana. Cerita dibuat dengan konflik yang langsung muncul, kejutan di setiap episode, durasi singkat, dan akhir cerita yang sengaja membuat penasaran. Satu episode selesai, muncul pertanyaan baru. Penonton kemudian terdorong mencari kelanjutan cerita. Dalam konteks China, model tersebut telah berkembang menjadi industri raksasa. Karena itulah pemerintah tidak lagi memandangnya sebagai sekadar hiburan receh di media sosial.

Micro-drama telah menjadi kekuatan ekonomi sekaligus kekuatan budaya. Dan semakin besar pengaruhnya, semakin besar pula perhatian pemerintah terhadap pesan yang dibawanya. Jadi, persoalan sebenarnya bukan sekadar “China melarang drama sopir jadi CEO.” Polemiknya jauh lebih besar: seberapa jauh sebuah negara boleh mengatur cerita yang ditonton rakyatnya ketika hiburan tersebut sudah mampu memengaruhi selera, nilai sosial, sekaligus menghasilkan miliaran dolar?

Di satu sisi ada kebutuhan menjaga kualitas dan nilai sosial. Di sisi lain ada industri kreatif yang hidup dari imajinasi penonton. Pertarungan antara dua kepentingan inilah yang kini menjadi babak baru industri micro-drama China, termasuk berbagai judul drama China yang akan datang.

Pos terkait