BARITO SELATAN, BULLETIN – Muka air Sungai Barito surut drastis di sekitar Jembatan Kalahien, Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Fenomena ini memunculkan gosong pasir luas dan mulai mengancam kelancaran transportasi air yang menjadi urat nadi perekonomian lokal. Kondisi ini terpantau pada Jumat, 21/08.
Perubahan drastis ini mengubah lanskap Sungai Barito surut hingga menampakkan hamparan pasir yang luas di tengah aliran. Dari bawah Jembatan Kalahien, sebagian kawasan bahkan terlihat menyerupai bentangan daratan yang membelah badan sungai, bukan sekadar aliran air.
Bagi masyarakat yang mengandalkan Sungai Barito sebagai jalur mobilitas dan distribusi barang, kondisi Sungai Barito surut ini menimbulkan kekhawatiran serius. Kelancaran transportasi air kini dipertaruhkan, mengingat vitalnya peran sungai ini.
Warga setempat, Rudi Hermansyah, menjelaskan bahwa perubahan kondisi Sungai Barito surut semakin jelas sejak awal Agustus. Kemunculan daratan dan gosong pasir di tengah sungai menjadi indikasi kuat penurunan permukaan air yang signifikan.
“Sejak awal Agustus memang terlihat semakin surut. Sekarang pasir di tengah sungai sudah mulai banyak terlihat,” kata Rudi Hermansyah.
Kondisi Sungai Barito surut dan dangkal ini membuat jalur pelayaran harus lebih diperhatikan, terutama bagi kapal berukuran besar dan tongkang dengan muatan berat. Kedalaman air yang minim mengharuskan operator kapal lebih waspada.
Dampak Sungai Barito surut tidak hanya pada pemandangan, tetapi juga langsung terasa pada aktivitas transportasi air. Kapal yang biasanya bergerak mengikuti alur sungai kini harus menyesuaikan perjalanan dengan kedalaman perairan yang terbatas.
“Dampaknya bukan hanya pada pemandangan sungai. Aktivitas transportasi air juga ikut terdampak karena kapal harus lebih berhati-hati mencari alur yang masih bisa dilewati,” ujar Rudi.
Sungai Barito memegang peran krusial dalam konektivitas masyarakat dan distribusi berbagai kebutuhan di wilayah yang berada di sepanjang daerah alirannya. Jika muka air terus menurun, dampaknya dapat merembet ke aktivitas ekonomi, khususnya sektor yang bergantung pada angkutan sungai.
Penurunan muka air akibat Sungai Barito surut ini menjadi tantangan besar bagi kapal dan tongkang berukuran besar. Semakin rendah kedalaman sungai, semakin terbatas ruang gerak kapal, terutama pada bagian yang mengalami pendangkalan.
Situasi ini dapat memengaruhi kapasitas muatan dan waktu tempuh pelayaran. Operator kapal perlu mempertimbangkan kondisi alur secara cermat sebelum menentukan perjalanan. Jika kemarau berlangsung lebih panjang dan debit terus turun, gangguan pelayaran berpotensi semakin meluas.
Bagi masyarakat di sekitar Sungai Barito, persoalan ini berdampak lebih luas. Sungai bukan hanya bagian dari bentang alam, tetapi juga jalur transportasi yang menghubungkan masyarakat dan menopang distribusi barang.
Kemunculan gosong pasir di bawah Jembatan Kalahien adalah gambaran nyata bagaimana perubahan musim memengaruhi kondisi sungai. Namun, fenomena Sungai Barito surut tidak berarti seluruh bagian Sungai Barito mengering.
Perubahan kedalaman dan luas permukaan air dapat berbeda di setiap bagian sungai, bergantung pada kondisi setempat serta debit dari wilayah hulu. Oleh karena itu, pemantauan tinggi muka air dan kondisi alur pelayaran menjadi sangat penting, terutama jika periode tanpa hujan berlangsung lebih lama.
“Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, tentu masyarakat yang bergantung pada sungai akan semakin merasakan dampaknya, terutama untuk transportasi dan distribusi barang,” tutup Rudi.
Surutnya Sungai Barito di Kalahien pada akhirnya bukan hanya soal munculnya hamparan pasir. Di balik pemandangan yang menyerupai gurun itu terdapat persoalan yang lebih besar: bagaimana masyarakat dan aktivitas ekonomi bertahan ketika salah satu jalur transportasi penting di Kalimantan Tengah mulai kehilangan kedalamannya.






